Search This Blog

Wednesday, November 13, 2013

DARI TANDUK JADI SARUNG PISAU



Hidup adalah pilihan, dalam pilihan ada perjuangan, untuk mempertahankan hasil dari perjuangan dibutuhkan keuletan dan keterampilan. Mungkin itulah kira-kira sekelumit pengertian tentang hidup yang yang terekam dalam otak Ape Umbe yang memiliki prinsip hidup adalah perjuangan. Ape Umbe”, itulah nama panggilannya yang memiliki nama lengkap Umar. Beliau lahir di Desa Tapir Kecamatan Seteluk, KSB tepatnya 58 tahun yang lalu. Kakek yang berusia setengah abad lebih ini menghabiskan waktunya setiap hari dengan membuat pegangan parang atau pisau, sarung parang atau pisau, pegangan cangkul, dan lain-lain. Pekerjaan ini sudah dilakukan dari masa mudanya dulu. Beliau menggeluti pekerjaan ini pada awalnya berprofesi menjadi tukang kayu. Seiring dengan berjalannya waktu yang memakan usianya yang semakin renta beliau memilih berhenti untuk menjadi tukang kayu karena sudah tidak kuat lagi. Tapi memang yang namanya bakat bawaan dari lahir tidak bisa dipendam, ditambah lagi dengan semangatnya dalam menjalani hidup yang begitu tinggi, akhirnya dengan sisa tenaga beliau berinisiatif untuk menekuni pekerjaan baru yang tidak jauh juga dari pekerjaan beliau pada masa mudanya.

Pekerjaan baru yang ditekuni Ape Umbe merupakan lahan empuk bagi beliau. Selain membantu diri sendiri, juga sangat  menguntungkan masyarakat Desa Tapir karena rata-rata mata pencaharian masyarakat Desa Tapir sebagai petani, otomatis membutuhkan alat-alat tersebut seperti pegangan parang atau pisau, sarung parang atau pisau, pegangan cangkul, dan sejenisnya. Selain harganya terjangkau hasil karya Ape Umbe juga sangat bagus, baik dari segi ukirannya maupun dari segi bahan yang digunakan.
Mengenai harga sangat beragam, tergantung dari bahan apa yang digunakan. Dalam pembuatan pegangan parang dan pegangan pisau Ape Umbe menggunakan dua jenis bahan yaitu dari kayu dan dari tanduk kerbau atau sapi. Bahan yang terbuat dari tanduk kerbau atau tanduk sapi harganya lebih mahal karena selain bahannya langka dan susah didapat, juga bahannya lebih keras dari kayu sehingga cara mengukirnya pun cukup rumit. Harganya paling rendah Rp. 50.000, tergantung besar ukurannya.  Sedangkan yang bahannya daru kayu dipatok dengan harga standar yang berkisar antara Rp. 30.000 sampai dengan Rp. 50.000. sepaket dengan sarung parang. Untuk pembuatan pegangan cangkul yang sekaligus dipasangkan beliau mematok harga Rp. 100.000. tetapi kalau bahannya ditanggung oleh pembeli cukup membayar Rp. 50.000. Tidak jarang juga dalam pekerjaan ini beliau tidak mengambil bayarannya kalau yang memesan itu orang sekampung yang kurang  mampu. Dengan bahasa daerah beliau yang sangat bersahaja “ No monto repot-repot e, beang mo dadi modal ku mudi pang akherat” (jangan terlalu repot untuk dibayar, biarlah menjadi pahala untuk bekal saya di akhirat nanti) ungkapnya.
Kakek yang satu ini memang sungguh luar biasa. Pandangannya tentang hidup sangat patut untuk kita tiru. Walaupun umurnya sudah tua, beliau masih punya semangat untuk berkarya. “Selama kita masih diberikan umur oleh Allah SWT, kita harus memanfaatkan sisa umur kita untuk hal yang bermanfaat terutama bagi orang lain” itulah kalimat yang selalu terlontar dari mulutnya yang dihiasi dengan senyum khasnya. (Delfikha)

No comments:

Post a Comment